Pemerintah Imbau Masyarakat Tetap Tenang, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi

JAKARTA — Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi perang Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah memastikan berbagai langkah telah disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan guna memastikan kesiapan APBN dalam meredam dampak konflik, khususnya terhadap sektor energi dan pangan.

“Fokus utama adalah menjaga daya beli masyarakat jika terjadi fluktuasi harga komoditi terutama energi di tingkat global,” kata Haryo.

Ia menegaskan, berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini bertujuan menjaga konsumsi domestik agar tidak terganggu.

“Langkah ini diharapkan menjadi bantalan ekonomi yang kuat untuk menggerakkan roda konsumsi domestik di tengah ketidakpastian global,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, pemerintah mempercepat penyaluran bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng kepada 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Pemerintah juga menyiapkan kebijakan lanjutan menjelang momentum Idulfitri guna menjaga stabilitas harga dan daya beli.

Dari sisi energi, PT Pertamina memastikan stok BBM dan LPG nasional dalam kondisi aman selama Ramadan dan Idulfitri. Berdasarkan pengalaman tahun 2025, Pertamina juga menyiapkan alternatif jalur pelayaran untuk menjaga rantai pasok minyak dan kestabilan harga BBM dalam negeri.

“Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan kami akan terus memonitor situasi dari waktu ke waktu dan mengambil kebijakan yang diperlukan demi kepentingan masyarakat,” ujar Haryo.

Di sisi moneter, pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Haryo menyebut posisi cadangan devisa per Januari 2026 mencapai 154,6 miliar dollar AS dan dinilai relatif aman sebagai instrumen stabilisasi.

Bank Indonesia juga menegaskan kesiapan merespons tekanan pasar akibat sentimen global. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, memastikan otoritas moneter akan bertindak sesuai kebutuhan.

“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat,” ujar Erwin.

BI menyiapkan strategi triple intervention melalui transaksi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta intervensi di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF) guna meredam volatilitas rupiah.

Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global dan menekan mata uang sejumlah negara berkembang, termasuk rupiah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan operasi militer terhadap Iran dapat berlangsung hingga empat pekan.

Meski demikian, pemerintah menegaskan fondasi ekonomi nasional tetap kuat dan berbagai instrumen fiskal serta moneter siap digunakan untuk menjaga stabilitas.

  • Related Posts

    Ekonomi Biru Diperkuat Lewat Pembentukan Institut Kelautan Indonesia

    Jakarta- Komitmen Indonesia untuk memperkuat pembangunan ekonomi biru terus mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Selain melalui penyempurnaan regulasi yang berpihak pada daerah kepulauan, penguatan riset, inovasi, dan pengembangan sumber…

    Ekonomi Biru Diperkuat lewat Pendidikan Vokasi, Riset Terapan, dan Pemberdayaan Pesisir

    Jakarta – Anggota Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan DPR RI Hendry Munief menegaskan bahwa konsep ekonomi biru perlu menjadi fondasi penting dalam pembangunan wilayah kepulauan Indonesia. Menurutnya,…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *