Presiden Prabowo Perkuat Ketahanan Pangan lewat Hilirisasi Ayam Terintegrasi

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat agenda ketahanan pangan nasional melalui percepatan hilirisasi sektor peternakan, salah satunya melalui pengembangan Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT). Program ini diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dalam negeri.

Langkah strategis tersebut dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Jakarta dengan melibatkan pemerintah, akademisi, badan riset, serta pelaku industri peternakan nasional. Forum ini menjadi wadah konsolidasi lintas sektor dalam merumuskan arah pengembangan industri ayam terintegrasi yang modern, mandiri, dan berdaya saing global.

Proyek HAT ditetapkan sebagai salah satu program prioritas nasional di bawah pengawalan Kementerian Pertanian. Program ini dirancang untuk membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, pakan, produksi, hingga distribusi dan pengolahan.

Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat implementasi program tersebut. “Kami membuka inovasi kolaborasi untuk membuat atau mendesain proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi agar tercipta seperti harapan kita semua,” ujarnya. Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, korporasi, akademisi, hingga peternak rakyat menjadi kunci dalam menciptakan inovasi yang aplikatif.

Menurut Maryadi, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan akan memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak. “Kami selaku korporasi senang bisa membantu masyarakat, khususnya peternak rakyat maupun negara, sehingga dapat saling berkolaborasi dengan seluruh stakeholder yang ada,” katanya.

Sementara itu, Kementerian Pertanian menegaskan bahwa peternak rakyat tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri perunggasan nasional. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyatakan bahwa setiap investasi harus memberikan manfaat nyata bagi peternak dalam negeri. “Pemerintah memastikan investasi perunggasan harus memperkuat produksi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Agung menambahkan, pembangunan subsektor peternakan dilakukan melalui penguatan kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, serta BUMN sektor pangan. “Ekosistem perunggasan nasional harus dibangun secara berkeadilan dengan melibatkan seluruh elemen,” katanya.

Dengan pendekatan hilirisasi terintegrasi, pemerintah optimistis industri perunggasan nasional dapat menjadi lebih efisien, berdaya saing, serta mampu menopang ketahanan pangan berkelanjutan di Indonesia. Program ini juga mampu memperkuat rantai pasok pangan domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

(*/rls)

  • Related Posts

    Biodiversity Credit dan Masa Depan Pembiayaan Ekonomi Hijau Indonesia

    Oleh: Alexander Royce*) Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang menempatkannya sebagai salah satu negara dengan potensi terbesar dalam pengembangan ekonomi hijau. Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, pemerintah…

    Pasar Karbon Mangrove dan Harapan Baru Lapangan Kerja Hijau

    Oleh: Bagas Nurahman)* Pengembangan pasar karbon berbasis mangrove menjadi salah satu peluang strategis Indonesia dalam memperkuat ekonomi hijau sekaligus menciptakan lapangan kerja berkelanjutan. Melalui mekanisme perdagangan karbon, upaya pelestarian lingkungan…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *