Pemerintah Optimalkan Manfaat CKG demi Kesehatan Berkualitas yang Merata

Jakarta – Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah strategis memperluas layanan kesehatan preventif dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara merata. Program ini dinilai menjadi upaya penting dalam mendeteksi dini berbagai penyakit tidak menular, terutama hipertensi yang masih menjadi ancaman serius bagi kelompok lanjut usia.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengatakan hasil pelaksanaan CKG menunjukkan tingginya kasus hipertensi pada lansia. Dari 6,8 juta lansia yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis, sebanyak 4,36 juta orang atau 63,5 persen terdeteksi mengalami hipertensi. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan intervensi yang terintegrasi dan berkelanjutan agar penanganan dapat dilakukan secara optimal.

“Hipertensi pada lansia memiliki dampak klinis dan sosial yang besar karena dapat meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, hingga penurunan fungsi kognitif,” ujar Imran Pambudi.

Ia menjelaskan, tingginya prevalensi hipertensi juga berdampak pada meningkatnya gangguan mobilitas lansia yang berpotensi menjadi beban ekonomi bagi keluarga dan sistem kesehatan. Karena itu, upaya pengendalian tidak cukup hanya melalui pengobatan, tetapi juga perlu disertai rehabilitasi, dukungan caregiver, serta perlindungan pembiayaan bagi lansia kurang mampu.

Lebih lanjut, Imran Pambudi menegaskan bahwa pencegahan hipertensi harus dimulai sejak dini melalui pemeriksaan tekanan darah rutin mulai usia 18 tahun. Ia juga mengingatkan pentingnya pola hidup sehat seperti mengurangi konsumsi garam, rutin berolahraga, menjaga berat badan, dan menghentikan kebiasaan merokok.

“Deteksi dini dan penguatan layanan primer menjadi kunci untuk menekan risiko komplikasi penyakit katastropik sehingga masyarakat dapat tetap sehat dan produktif,” katanya.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyampaikan bahwa program CKG telah menjangkau sekitar 19 juta masyarakat selama periode Januari hingga awal Mei 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,16 juta peserta telah tercatat memperoleh tatalaksana pengobatan dan pengendalian penyakit.

Menurut Benjamin Paulus Octavianus, program CKG merupakan langkah nyata pemerintah dalam membangun budaya pemeriksaan kesehatan berkala di tengah masyarakat.

“CKG sangat penting untuk mendeteksi dini hipertensi, diabetes, tuberkulosis, maupun masalah gizi sehingga penyakit dapat dicegah sebelum berkembang menjadi lebih berat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah berharap fasilitas kesehatan tidak hanya dimanfaatkan saat masyarakat sakit, tetapi juga sebagai sarana pencegahan dan deteksi dini penyakit. Dengan dukungan fasilitas kesehatan yang semakin lengkap dan modern, program CKG diharapkan mampu mewujudkan layanan kesehatan berkualitas yang dapat diakses secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia.

  • Related Posts

    Biodiversity Credit dan Masa Depan Pembiayaan Ekonomi Hijau Indonesia

    Oleh: Alexander Royce*) Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang menempatkannya sebagai salah satu negara dengan potensi terbesar dalam pengembangan ekonomi hijau. Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, pemerintah…

    Pasar Karbon Mangrove dan Harapan Baru Lapangan Kerja Hijau

    Oleh: Bagas Nurahman)* Pengembangan pasar karbon berbasis mangrove menjadi salah satu peluang strategis Indonesia dalam memperkuat ekonomi hijau sekaligus menciptakan lapangan kerja berkelanjutan. Melalui mekanisme perdagangan karbon, upaya pelestarian lingkungan…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *