Oleh: Faiz Permana )*
Stabilitas ketenagakerjaan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, pemerintah memilih mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat sektor-sektor yang memiliki kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja.
Arah kebijakan tersebut terlihat dari rencana pemerintah menjadikan industri padat karya sebagai fokus utama kebijakan fiskal pada 2027. Pilihan ini dinilai tepat karena sektor padat karya selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja nasional dan memiliki kontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Pelaksana Harian Direktur Jenderal Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Ferry Ardiyanto, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai stimulus fiskal untuk memperkuat sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi.
Dukungan pemerintah terhadap dunia usaha diwujudkan melalui berbagai insentif fiskal. Salah satunya adalah insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah bagi pekerja di sektor padat karya dan pariwisata. Kebijakan ini bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi perusahaan untuk tetap mempertahankan operasional usahanya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian serius. Melalui program magang bagi lulusan baru, pemerintah berupaya mempercepat proses adaptasi generasi muda terhadap kebutuhan dunia kerja. Pengalaman kerja yang diperoleh melalui program tersebut akan menjadi modal penting bagi pencari kerja untuk meningkatkan daya saingnya.
Skema pemberian uang saku setara upah minimum memberikan nilai tambah bagi peserta magang. Selain memperoleh pengalaman praktis, generasi muda juga mendapatkan dukungan ekonomi selama mengikuti proses pembelajaran di lingkungan kerja.
Perlindungan terhadap pekerja transportasi daring diperkuat melalui pemberian diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kesehatan Nasional sebesar 50 persen. Kebijakan ini menunjukkan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada sektor formal, tetapi juga kepada kelompok pekerja yang menjadi bagian penting dari ekonomi digital.
Penyerapan tenaga kerja di daerah juga diperkuat melalui program padat karya tunai. Kehadiran program ini memiliki manfaat ganda karena mampu memberikan penghasilan kepada masyarakat sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan daerah.
Berbagai program prioritas nasional turut menjadi motor penciptaan lapangan kerja baru. Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu contoh kebijakan yang memiliki dampak ekonomi luas karena melibatkan rantai pasok yang panjang, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi.
Perkiraan penyerapan sekitar 1,5 juta tenaga kerja melalui Program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa kebijakan sosial dapat berjalan beriringan dengan agenda penciptaan lapangan kerja. Efek ekonominya menjangkau berbagai sektor usaha yang terlibat dalam pelaksanaannya.
Pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih juga memperlihatkan upaya pemerintah memperkuat ekonomi pesisir. Target penyerapan sekitar 270 ribu tenaga kerja menjadi bukti bahwa sektor kelautan dan perikanan masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Ferry Ardiyanto menilai berbagai insentif yang dipertahankan pemerintah memiliki tujuan besar untuk menjaga kekuatan kelas menengah. Kelompok ini memiliki peran strategis karena menjadi penggerak utama konsumsi domestik yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pembebasan Pajak Pertambahan Nilai untuk rumah hingga Rp2 miliar menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap sektor properti. Aktivitas sektor ini memiliki keterkaitan dengan banyak industri sehingga keberlangsungannya penting bagi penciptaan lapangan kerja.
Relaksasi PPh final bagi UMKM juga menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha kecil. Dukungan tersebut sangat relevan karena UMKM merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Upaya menjaga stabilitas ketenagakerjaan semakin penting ketika dunia menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan tekanan ekonomi global. Risiko tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas industri sehingga memerlukan langkah mitigasi yang terukur.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menjelaskan bahwa pemerintah bersama serikat pekerja terus melakukan langkah antisipasi terhadap potensi PHK. Arahan Presiden untuk melakukan mitigasi sejak dini menjadi dasar berbagai aktivitas pemantauan yang dilakukan di lapangan.
Pemantauan langsung terhadap kondisi perusahaan dilakukan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan yang dihadapi dunia usaha. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai persoalan diidentifikasi lebih awal sehingga solusi dapat disiapkan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Optimisme terhadap prospek ketenagakerjaan nasional juga terlihat dari perkembangan investasi di daerah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa arus investasi yang masuk ke wilayahnya terus meningkat dan mulai diikuti oleh bertambahnya aktivitas rekrutmen tenaga kerja.
Beroperasinya sejumlah pabrik baru memberikan sinyal positif bahwa kebutuhan tenaga kerja masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa iklim investasi nasional tetap memiliki daya tarik di mata pelaku usaha.
Perhatian terhadap kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dari strategi daerah. Transparansi sistem rekrutmen dan penguatan pelatihan vokasi dipandang sebagai langkah yang dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.
Dengan kebijakan yang terarah dan sinergi antarpemangku kepentingan, peluang menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas lapangan kerja pada tahun-tahun mendatang menjadi semakin besar.
*Penulis merupakan Pengamat Ketenagakerjaan

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Foto-ilustrasi-siswa-sedang-belajar-di-Sekolah-Rakyat.jpg)
