Resiliensi Media Perkuat Pertahanan Semesta di Era Digital

Jakarta – Resiliensi media dinilai menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat sistem pertahanan semesta di tengah derasnya arus informasi digital. Kemampuan masyarakat untuk memilah informasi yang benar, didukung ekosistem media yang profesional dan bertanggung jawab, menjadi benteng utama dalam menghadapi ancaman misinformasi, disinformasi, serta hoaks yang dapat mengganggu stabilitas nasional.

Wakil Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat, Wahyu Triyogo, mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap media. Publik kini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memproduksi dan menyebarluaskan informasi secara mandiri melalui berbagai platform digital.

“Perkembangan teknologi, khususnya dengan pesatnya pertumbuhan media sosial, menghadirkan tantangan baru dalam ekosistem informasi. Kehadiran media sosial telah mengubah lanskap media sehingga setiap individu dapat memproduksi dan menyebarkan informasi. Akibatnya terjadi tsunami informasi yang di dalamnya juga dipenuhi misinformasi dan disinformasi,” ujar Wahyu.

Menurutnya, hoaks tidak lagi sekadar informasi yang menyesatkan, melainkan telah berkembang menjadi instrumen yang dapat memengaruhi opini publik, memecah belah masyarakat, hingga melemahkan persatuan bangsa. Oleh sebab itu, penguatan literasi media dan literasi informasi menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan nasional.

“Ancaman misinformasi dan disinformasi bukan lagi persoalan individu, tetapi dapat menjadi alat peperangan informasi yang mengancam stabilitas negara. Jika benteng pertahanan masyarakat tidak diperkuat, kita akan sangat mudah dihasut, diprovokasi, dimanipulasi, dan dipecah belah,” tegasnya.

Wahyu juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Menurutnya, regulasi tersebut menjadi bukti kehadiran negara dalam memastikan platform digital menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak.

“PP TUNAS merupakan terobosan penting yang harus diimplementasikan secara konsisten. Pemerintah perlu memastikan seluruh platform digital, termasuk platform asing, mematuhi regulasi nasional dan bertanggung jawab atas konten yang beredar. Dengan demikian, ruang digital Indonesia akan menjadi lebih aman, sehat, dan mendukung terwujudnya pertahanan semesta yang tangguh di era digital,” ujarnya.

Penguatan resiliensi media merupakan investasi strategis dalam membangun ketahanan informasi nasional.

Melalui sinergi pemerintah, insan pers, platform digital, akademisi, dan masyarakat, Indonesia diharapkan mampu mewujudkan ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab sebagai fondasi kokoh bagi sistem pertahanan semesta di era digital.

  • Related Posts

    Prabowo Dorong E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi Nasional

    JAKARTA – Pemerintah mulai menyiapkan pengembangan bahan bakar bensin campuran bioetanol 50 persen atau E50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo…

    Pemerintah Siapkan E50 sebagai Bagian dari Strategi Ketahanan Energi

    Jakarta – Pemerintah menyiapkan pengembangan bahan bakar minyak (BBM) berbasis etanol hingga E50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *