Oleh: Hanan Alfawazi*)
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, publik dihadapkan pada dua realitas yang berjalan beriringan. Di satu sisi, dunia masih dibayangi perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan meningkatnya fragmentasi perdagangan internasional. Di sisi lain, Indonesia justru memperlihatkan kemampuan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan tersebut. Situasi ini menjadi alasan mengapa peringatan kemerdekaan tahun ini layak dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. HUT ke-81 RI merupakan momentum untuk memperkuat optimisme bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang semakin tangguh dalam menghadapi tantangan global.
Optimisme tersebut tentu tidak lahir tanpa dasar. Berbagai indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, aktivitas investasi terus berjalan, sementara sektor keuangan nasional menunjukkan resiliensi yang baik. Di tengah ketidakpastian global, capaian tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan keberlanjutan pertumbuhan.
Pandangan tersebut selaras dengan penilaian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat menghadapi gejolak global. Menurutnya, tekanan eksternal memang tidak dapat dihindari, namun fundamental ekonomi nasional tetap berada pada kondisi yang sehat. Permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terkendali, serta stabilitas sistem keuangan menjadi faktor utama yang membuat Indonesia lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
Lebih jauh, Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi berbagai dinamika global. Koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan terus diperkuat agar setiap tekanan dapat direspons secara cepat dan terukur. APBN tetap difungsikan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat, sementara berbagai reformasi di sektor keuangan, termasuk penguatan tata kelola devisa hasil ekspor dan pendalaman pasar keuangan domestik, diarahkan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa optimisme pemerintah dibangun di atas kebijakan yang konkret, bukan sekadar harapan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih mampu berada di atas lima persen meskipun tekanan global belum sepenuhnya mereda. Keyakinan tersebut didasarkan pada tetap kuatnya konsumsi domestik, meningkatnya aktivitas investasi, serta berlanjutnya berbagai proyek strategis nasional yang menjadi penggerak ekonomi di berbagai daerah.
Airlangga juga menilai bahwa paket stimulus ekonomi yang disiapkan pemerintah menjadi langkah antisipatif untuk menjaga momentum pertumbuhan. Insentif transportasi, bantuan pangan, dukungan terhadap sektor padat karya, hingga berbagai kemudahan investasi menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus menjaga angka pertumbuhan, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Pendekatan seperti ini penting karena ketahanan ekonomi nasional pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan kesejahteraan masyarakat.
Pandangan pemerintah tersebut mendapat penguatan dari kalangan ekonom. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai inflasi yang mulai mereda pada semester II menjadi momentum yang baik bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekonomi. Stabilitas harga dinilai akan meningkatkan ruang bagi kebijakan yang lebih akomodatif sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Menurut Fakhrul, inflasi yang terkendali memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun strategi investasi dan ekspansi bisnis. Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh manfaat berupa stabilitas harga kebutuhan pokok sehingga konsumsi rumah tangga tetap terjaga. Kombinasi antara inflasi yang rendah, kebijakan fiskal yang adaptif, dan iklim investasi yang kondusif menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.
Dari sudut pandang kebijakan publik, pandangan ketiga narasumber tersebut menunjukkan satu benang merah, yakni bahwa optimisme ekonomi Indonesia tidak dibangun atas retorika semata, melainkan ditopang oleh indikator yang nyata dan kebijakan yang konsisten. Tantangan global memang belum berakhir, namun pemerintah memilih memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui pengendalian inflasi, percepatan investasi, penguatan hilirisasi, pembangunan infrastruktur, serta perlindungan terhadap daya beli masyarakat.
Momentum HUT RI ke-81 tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat optimisme nasional dan mentransformasikannya menjadi aksi nyata perjuangan bangsa. Dalam lanskap geopolitik dan ekonomi global yang kian dinamis, makna kemerdekaan telah bertransformasi, bukan lagi sebatas keberhasilan mempertahankan kedaulatan politik, melainkan juga membuktikan kemampuan nasional dalam membangun kemandirian ekonomi yang tangguh, inklusif, dan adaptif.
Sinergi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat luas akan menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko global sekaligus mengoptimalkan potensi dalam negeri. Dengan merawat spirit gotong royong dan optimisme tersebut, Indonesia tidak hanya mampu menjaga daya tahan ekonominya, tetapi juga melangkah mantap mewujudkan cita-cita bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional.
*) Pengamat Publik


