BGN Perbaharui PKS dengan Mitra Pengelola Dapur SPPG Demi Perbaikan Tata Kelola

Jakarta, Badan Gizi Nasional (BGN) memperbarui tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah menemukan sejumlah persoalan dalam hubungan antara mitra, yayasan, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah daerah.

Saat meresmikan SPPG Wilayah 3T dan Prevalensi Stunting Tinggi di 16 Provinsi Indonesia Timur, Kepala BGN Sudaryono mengatakan pembaruan ini dilakukan melalui revisi Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan mitra dan dapur SPPG.

“Langkah ini ditujukan untuk menghilangkan potongan yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan penyelenggaraan program,” ujar Sudaryono.

Sudaryono juga menegaskan BGN akan menghentikan kerja sama dengan yayasan yang dinilai tidak memiliki kontribusi dalam penyelenggaraan MBG tetapi tetap meminta setoran kepada mitra.

“Pokoknya orang-orang yang tidak ada andil, tidak membina, tidak ikut repot, tidak modal, tidak membina, tidak ikut sibuk, tidak mengawasi, tidak ada andil apa pun hanya minta kejar setoran, itu semua akan kita cut off,” kata Sudaryono.

Menurutnya, evaluasi dilakukan berdasarkan persoalan yang ditemukan selama MBG berjalan. Mekanisme program akan terus diperbaiki dengan mempertahankan hal-hal yang dinilai sudah berjalan baik dan membenahi pelaksanaan yang masih bermasalah.

“Yang baik kita tambah baik, yang jelek kita perbaiki jadi tambah baik, dan kita terus kita perbaiki, insya Allah,” tuturnya.

Senada, Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, La Ode Abdul Muis, mendukung langkah BGN untuk membenahi tata kelola kemitraan dalam program MBG. Menurutnya, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh jumlah penerima manfaat, tetapi juga oleh kualitas makanan, ketepatan penggunaan anggaran, serta transparansi dalam setiap tahapan pengelolaan.

“Usulan Kepala BGN sangat baik dan menjadi penguatan bagi pengelola dapur. Prinsipnya, jangan sampai anggaran yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak justru berkurang karena adanya beban setoran yang tidak memberikan nilai tambah terhadap operasional dapur,” ucap Muis.

Muis juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pola kemitraan yang selama ini berjalan, termasuk memetakan kontribusi masing-masing pihak. Hubungan antara BGN, yayasan, dan mitra pengelola dapur perlu dibuat lebih transparan, dan akuntabel.
“Kalau yayasan memang memberikan kontribusi dalam penyediaan fasilitas, manajemen, sumber daya manusia, atau kebutuhan operasional lainnya, tentu harus ada mekanisme yang jelas dan wajar,” pungkasnya. [*]

  • Related Posts

    Mengapresiasi Pembenahan Tata Kelola MBG untuk Pelayanan yang Lebih Baik

    Oleh: Rachmat Hidayat* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berkembang menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Seiring dengan semakin luasnya cakupan penerima manfaat…

    Peningkatan Kualitas MBG sebagai Investasi Gizi dan Pendidikan Karakter Anak Indonesia

    Oleh Yulianti )* Upaya Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui uji coba sistem prasmanan patut diapresiasi. Langkah ini menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak berhenti…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *