Penerimaan Masyarakat terhadap MBG Meningkat, Ekonomi UMKM Ikut Terdongkrak

Jakarta – Penerimaan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan tren yang semakin positif. Sejumlah riset terbaru mengindikasikan bahwa program tersebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga membantu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di tingkat lokal.

Temuan tersebut tercermin dalam riset yang dilakukan Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) yang dirilis pada Maret 2026 serta kajian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED). Kedua lembaga ini mencatat bahwa program MBG membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menjelaskan bahwa mayoritas orang tua siswa yang menjadi responden memberikan penilaian positif karena program ini membantu mengurangi pengeluaran keluarga sehari-hari.

“Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis yang memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan tetap mendapatkan akses makanan bergizi di sekolah,” ujar Hari.

Kemudian, dengan adanya program MBG, sebanyak 85,8 persen siswa tercatat selalu menghabiskan makanan yang disediakan di sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak hanya diterima dengan baik, tetapi juga benar-benar dimanfaatkan oleh para siswa.

Sementara itu, Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menilai bahwa meningkatnya penerimaan masyarakat menunjukkan program MBG mulai menemukan momentumnya. Seiring berjalannya waktu, berbagai perbaikan dalam mekanisme pelaksanaan dan distribusi membuat program tersebut semakin diterima oleh masyarakat.

“MBG memang sempat menghadapi resistensi di awal. Namun sekarang perlahan mulai diterima masyarakat dan pelayanan juga semakin membaik, termasuk dukungan dari sektor kesehatan,” ucap Trubus.

Lebih jauh, Trubus menilai bahwa dampak program MBG tidak berhenti pada aspek sosial dan kesehatan semata, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal. Permintaan terhadap bahan pangan seperti sayuran, telur, dan produk pangan lainnya meningkat seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat program.

“Kondisi ini pada akhirnya ikut mendorong perputaran ekonomi di tingkat daerah serta memperluas kesempatan usaha bagi pelaku UMKM,” imbuhnya.

Dengan berbagai temuan tersebut, program MBG dinilai semakin menunjukkan relevansinya sebagai kebijakan publik yang memiliki dampak multidimensi. Selain memperkuat pemenuhan gizi anak sekolah, program ini juga memberikan perlindungan sosial bagi keluarga serta menciptakan efek pengganda terhadap ekonomi lokal.

  • Related Posts

    Bansos Lebaran dan Janji Konstitusi: Negara Wajib Hadir di Saat Rakyat Paling Rentan

    Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Menjelang Lebaran, kebutuhan rumah tangga masyarakat biasanya meningkat, mulai dari pangan hingga kebutuhan sosial lainnya. Pada momen seperti ini, kehadiran negara melalui bantuan sosial menjadi sangat…

    Bansos Lebaran Bukti Negara Dengar Suara Rakyat

    Oleh : Gavin Asadit )* Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, pemerintah kembali menyalurkan berbagai program bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Kebijakan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *