Resiliensi Media Kunci Menjaga Persatuan di Tengah Perang Informasi

Resiliensi media menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah meningkatnya ancaman hoaks, disinformasi, dan perkembangan teknologi digital yang membuat penyebaran informasi palsu semakin sulit dikenali.

Di tengah derasnya arus informasi, media yang profesional dan kredibel dinilai memiliki peran strategis dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan pers merupakan benteng utama dalam menghadapi perang informasi.

Menurutnya, pemerintah dan insan pers memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kualitas informasi di ruang publik.

“Kami memandang rekan-rekan pers sebagai benteng pertahanan melawan hoaks dan disinformasi,” ujar Fifi.

Ia mengingatkan bahwa percepatan penyebaran informasi tidak boleh mengorbankan prinsip jurnalistik.

“Di era digital, kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi,” katanya.

Fifi juga menegaskan produk jurnalistik harus berorientasi pada kepentingan publik.

“Produk jurnalistik harus berorientasi pada kepentingan dan memberikan manfaat bagi publik di tengah tekanan kecepatan produksi informasi.” tegas Fifi.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat.

Menurutnya, pers tetap menjadi rujukan utama masyarakat di tengah ledakan informasi yang terjadi saat ini. Informasi yang dibutuhkan publik harus berasal dari sumber yang terpercaya sehingga mampu memperkuat kepercayaan dan menjaga kohesi sosial.

Upaya memperkuat ketahanan informasi juga diwujudkan melalui inovasi digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut tiga inovasi Indonesia yang meraih pengakuan dalam ajang WSIS Prizes 2026 menunjukkan transformasi digital nasional semakin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Saya melihat yang jadi nomine dan pemenang di WSIS tahun ini bobotnya makin kuat sejak tiga tahun terakhir,” ujar Nezar.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks), yang dinilai semakin relevan menghadapi maraknya disinformasi berbasis kecerdasan artifisial.

“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang otentik,” ungkapnya.

Nezar menilai platform verifikasi informasi menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap informasi palsu.

“Inisiatifnya sangat baik, sangat useful, juga impactful untuk mendorong transformasi digital dalam layanan publik,” katanya.

Penguatan media yang berintegritas, didukung inovasi digital dan budaya verifikasi informasi, menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan bangsa di tengah perang informasi yang semakin kompleks.

  • Related Posts

    Mengapresiasi Pembenahan Tata Kelola MBG untuk Pelayanan yang Lebih Baik

    Oleh: Rachmat Hidayat* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berkembang menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Seiring dengan semakin luasnya cakupan penerima manfaat…

    Peningkatan Kualitas MBG sebagai Investasi Gizi dan Pendidikan Karakter Anak Indonesia

    Oleh Yulianti )* Upaya Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui uji coba sistem prasmanan patut diapresiasi. Langkah ini menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak berhenti…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *