Perkuat Kebersamaan, Tokoh Adat Pemerintah Ajak Warga Tolak Provokasi Jelang 1 Desember

PAPUA – Menjelang 1 Desember 2025, berbagai elemen di Papua menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga kedamaian dan memperkuat harmoni sosial. Tanggal tersebut kerap menjadi momentum sensitif, namun tahun ini pemerintah daerah, aparat keamanan, serta tokoh adat menyerukan semangat persatuan agar masyarakat tetap fokus pada aktivitas positif dan persiapan menyambut Natal.

Komandan Kodim 1710/Mimika, Letkol Inf M. Slamet Wijaya, menegaskan bahwa kondisi keamanan di Mimika berada dalam keadaan kondusif dan terkendali. Ia menekankan bahwa peningkatan kesiapsiagaan dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat.

“Kami memastikan seluruh warga dapat beraktivitas dengan tenang. Kehadiran aparat adalah untuk memberikan rasa aman, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Menurutnya, koordinasi terpadu antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas wilayah. Ia menegaskan bahwa masyarakat adalah mitra strategis dalam menciptakan situasi yang harmonis.

“Papua maju ketika masyarakat dan aparat berjalan bersama. Dukungan warga sangat berarti bagi upaya menjaga keamanan,” tambah Letkol Slamet.

Di Nabire, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) memperkuat peran sosial melalui kegiatan sosialisasi yang dipimpin Ketua LMA Nabire, Karel Misiro. Dalam dialog bersama tokoh adat dan warga, Karel mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan mengedepankan persatuan.

“1 Desember adalah momentum untuk menjaga diri, menjaga keluarga, dan menjaga kampung. Kita harus memilih jalan damai demi masa depan Papua,” ujarnya.

LMA juga mendorong berbagai langkah positif, seperti peningkatan koordinasi antar-kampung, dialog rutin, dan pembentukan kelompok pemantau keamanan adat. Upaya ini dipandang sebagai bentuk kearifan lokal untuk memperkuat rasa kebersamaan.

“Tugas menjaga kedamaian bukan hanya di tangan aparat, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh anak Papua,” Karel menambahkan.

Pemerintah Provinsi Papua Selatan turut menghadirkan suasana optimistis dengan mengajak masyarakat memeriahkan perayaan Natal sejak awal Desember. Hiasan dan pernak-pernik Natal di fasilitas publik dianggap sebagai simbol kebersamaan serta harapan akan masa depan Papua yang lebih damai. Pemerintah menyampaikan bahwa semangat kebudayaan dan keagamaan mampu menguatkan solidaritas warga.

“Kami ingin Desember menjadi bulan yang penuh sukacita dan jauh dari hal-hal yang dapat mengganggu keharmonisan,” ujar salah satu pejabat pemerintah daerah.

Ajakan menolak provokasi 1 Desember bukan hanya sikap antisipatif, tetapi wujud nyata upaya bersama untuk menjaga Papua tetap aman dan sejahtera. Dengan sinergi aparat, tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat, Papua diharapkan dapat terus melangkah maju sebagai tanah damai dengan masa depan yang penuh harapan.

  • Related Posts

    Menjadikan Ojol Bagian dari UMKM adalah Langkah Besar Mengangkat Kesejahteraan Rakyat

    *) Oleh : Gavin Asadit Pemerintah memperkuat kebijakan dengan memberikan perlindungan dan peluang pemberdayaan bagi pengemudi ojek online atau ojol. Langkah tersebut memasuki babak baru setelah pemerintah menyiapkan payung hukum…

    Negara Hadir untuk Ojol lewat Perlindungan Pendapatan, Hak Kerja, dan Masa Depan

    Oleh Aryandi* Pemerintah tengah menyiapkan babak baru dalam penataan ekosistem ojek online melalui percepatan finalisasi Peraturan Presiden (Perpres) tentang ojek online yang ditargetkan terbit sebelum 17 Agustus 2026. Kebijakan ini…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *