Gentengisasi Lestarikan Warisan Industri Nusantara dan Dukung Hunian Sehat

Jakarta – Program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjadi momentum untuk melestarikan warisan industri tradisional sekaligus mendukung terciptanya hunian yang lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat. Melalui pemanfaatan genteng tanah liat, program ini menghubungkan kekayaan kerajinan Nusantara dengan upaya peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Salah satu daerah yang mendapat perhatian adalah Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, yang dikenal sebagai sentra kerajinan genteng dengan sejarah panjang. Industri tersebut tidak hanya menghasilkan material bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

banner 336×280
Bupati Majalengka Eman Suherman menyampaikan bahwa industri genteng Jatiwangi telah berkembang sejak 1905. Pada masa kejayaannya sekitar 1998, terdapat kurang lebih 720 pabrik genteng. Saat ini, sekitar 200 pabrik masih beroperasi di tengah perkembangan material atap modern.

“Dari sekitar 720 pabrik yang pernah ada, saat ini yang masih beroperasi kurang lebih 200 pabrik,” jelas Eman.

Menurut Eman, perhatian pemerintah pusat melalui program Gentengisasi menjadi momentum penting bagi keberlanjutan industri genteng tradisional. Program tersebut sekaligus memberikan ruang bagi keterampilan masyarakat dalam mengolah tanah liat agar tetap dikenal dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

“Suatu kebahagiaan dan kehormatan bagi kami selaku Bupati Majalengka, karena para pengusaha genteng di Kecamatan Jatiwangi akan mendapatkan kehormatan melalui program Gentengisasi yang digagas Bapak Presiden Republik Indonesia,” ungkap Eman.

Di samping nilai sejarah dan budayanya, penggunaan genteng tanah liat juga memiliki keunggulan dalam mendukung kenyamanan dan kesehatan hunian. Karakteristik material tersebut dapat membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah sehingga berpotensi menciptakan suhu ruangan yang lebih nyaman, terutama di wilayah beriklim tropis.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut menyoroti manfaat penggunaan genteng dibandingkan material atap seng, khususnya dari aspek kenyamanan penghuni dan kondisi lingkungan rumah.

“Kalau menggunakan genteng, rumah lebih sejuk dan ketika hujan tidak terlalu bising. Dari sisi keindahan juga lebih baik. Genteng tanah liat juga merupakan produk yang khas dari Indonesia,” kata Tito.

Aspek kenyamanan tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Lingkungan hunian dengan suhu yang nyaman, ventilasi memadai, serta material bangunan berkualitas menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan keluarga.

Program Gentengisasi juga memberikan perhatian terhadap peningkatan mutu produk melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan demikian, keberlanjutan warisan industri genteng tradisional dapat berjalan beriringan dengan penyediaan material atap berkualitas untuk mendukung hunian yang lebih nyaman dan sehat bagi masyarakat.

Related Posts

Pembahasan UMP 2027 Didorong Sejalan dengan Penguatan UU Ketenagakerjaan

Jakarta – Pembahasan penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2027 mulai diarahkan agar selaras dengan penguatan regulasi ketenagakerjaan yang baru. Pemerintah akan menggunakan undang-undang perlindungan ketenagakerjaan sebagai landasan dalam merumuskan formula…

UMP 2027 Disiapkan, Perlindungan Pekerja Jadi Fokus Kebijakan Ketenagakerjaan

Jakarta – Pemerintah menargetkan pembahasan awal Upah Minimum Provinsi (UMP) 2027 di tingkat Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) rampung pada pekan terakhir November 2026. Pembahasan tersebut diarahkan untuk memastikan kebijakan pengupahan mempertimbangkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *