Pemerintah Gencarkan Hilirisasi, Indonesia Bakal Naik Kelas dalam Rantai Nilai Global

Jakarta – Pemerintah terus menggencarkan hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri nasional, dan mendorong posisi Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengatakan pemerintah menyiapkan tiga strategi investasi hilirisasi, yaitu perencanaan, eksekusi, serta kebijakan perizinan dan pemberian insentif.

“Pertama itu berbicara perencanaan. Kemudian kita melihat juga planning perencanaan ini, sisi eksekusinya. Yang ketiga itu kita melihat juga karena dalam hal ini kapasitas kita sebagai pemerintah regulator, tentunya kita juga akan melihat bagaimana mengenai strategi perizinan dan juga strategi insentif,” ujar Todotua.

Menurut Todotua, pemerintah tengah menyusun peta jalan (roadmap) hilirisasi terhadap 28 komoditas strategis hingga 2045 dengan potensi nilai investasi mencapai US$618 miliar.

“Ada 28 komoditas dalam rencana payung besar program kita sampai 2040–2045. Konsolidasi terhadap ini ada kurang lebih US$618 miliar kalau sektor hilirisasi investasinya kita dorong. Untuk lebih focusing lagi, dalam RPJM kita squeeze menjadi 15 komoditas,” katanya.

Roadmap ini mencakup pemetaan cadangan sumber daya, posisi Indonesia di pasar global, serta industri pendukung di lima pulau besar. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sektor migas, mineral, kelautan, dan perkebunan guna meningkatkan nilai tambah sekaligus mendorong pemerataan ekonomi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Ahmad Erani Yustika menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan dua tujuan utama dalam program hilirisasi nasional, yakni meningkatkan nilai tambah kekayaan alam dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap barang impor.

“Yang pertama kita harus menaikkan nilai tambah sumber daya alam kita sehingga harus diolah di sini, itu yang paling utama. Yang kedua kita justru harus mendorong supaya ketergantungan impornya itu berkurang,” kata Erani.

Melalui hilirisasi yang terencana dan terintegrasi, Indonesia diharapkan tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut sekaligus menjadi fondasi untuk memperkuat kemandirian industri, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global.

  • Related Posts

    Aliansi BADR: Indonesia, Turkiye, Pakistan, Qatar Memperluas Kerja Sama Strategis

    Oleh Aditya Putra )* Indonesia bersama Turkiye, Pakistan, dan Qatar memperkuat hubungan strategis melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) Project Badr pada 21 Oktober 2026 di Doha,…

    Ekspor Tumbuh dan Surplus Terjaga, Pemerintah Optimistis Ekonomi Nasional Kian Kuat

    Jakarta – Pemerintah mengapresiasi kinerja ekspor Indonesia yang menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekspor dan surplus neraca perdagangan dinilai mencerminkan ketahanan ekonomi nasional sekaligus memperkuat optimisme…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *