JAKARTA – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kian menunjukkan arah yang terintegrasi melalui sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, militer, daerah, hingga perguruan tinggi dan industri. Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tekanan geopolitik global, perubahan iklim, serta gangguan rantai pasok pangan dunia.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) semakin strategis dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Hal tersebut disampaikan dalam Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, yang dihadiri sekitar 1.500 komandan satuan. “Peran TNI menjadi semakin strategis ketika dunia menghadapi tekanan geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok pangan global,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kini menempatkan sektor pangan sebagai bagian dari strategi pertahanan negara, bukan sekadar urusan produksi. Untuk itu, konsolidasi lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak agar sistem pangan nasional dapat berjalan efektif dari hulu hingga hilir. “Pemerintah ingin membangun sistem pangan nasional yang kuat secara produksi, adil bagi petani, terjangkau bagi masyarakat, serta berkelanjutan bagi desa,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari penguatan di tingkat akar rumput, pemerintah juga mendorong pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dengan target hingga 80.000 unit di seluruh Indonesia. Program ini diharapkan mampu memperkuat distribusi pangan, memperluas akses pasar, serta meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai pasok.
Di tingkat daerah, Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan capaian signifikan dalam penguatan ketahanan pangan. Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, menyampaikan bahwa wilayahnya berhasil menempati peringkat pertama Indeks Ketahanan Pangan (IKP) 2025 dengan skor 81,98, disertai surplus beras mencapai 1,2 juta ton pada awal 2026. “Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga mencakup keterjangkauan dan keberlanjutan. Kita ingin petani sejahtera, tetapi masyarakat tetap bisa membeli dengan harga wajar,” kata Muhidin.
Sementara itu, sinergi lintas sektor juga diperkuat melalui kolaborasi riset dan industri. Universitas Gadjah Mada melalui Fakultas Teknik bekerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dan PT Agrotekno Estetika Laboratoris dalam pengembangan inovasi pemanfaatan energi panas bumi menjadi pupuk ramah lingkungan melalui proyek Katrili.
Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo, menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjembatani riset dan implementasi teknologi. “Pengembangan Katrili menjadi contoh konkret integrasi energi dan pangan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi baru terbarukan,” ujarnya.
(*/rls)



_(2).jpg)