JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi strategis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berakhlak, dan berdaya saing. Sejalan dengan pelaksanaan program yang terus berkembang, evaluasi dan pembenahan tata kelola dilakukan agar manfaat MBG semakin tepat sasaran, aman, transparan, serta mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di berbagai daerah.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Hariqo Wibawa Satria, mengatakan evaluasi MBG mencakup pengecekan ulang data penerima manfaat, peninjauan peraturan, serta evaluasi terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Evaluasi ini merupakan bagian dari proses penyempurnaan agar MBG semakin tepat sasaran, aman, dan tertata. Prioritasnya adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu, masyarakat yang mengalami kemiskinan ekstrem, serta penerima manfaat di wilayah 3T,” ujar Hariqo.
Menurut dia, evaluasi dalam waktu sekitar satu bulan merupakan langkah realistis karena telah terbentuk kesadaran bersama di berbagai tingkatan pelaksana program. Penguatan pengawasan juga diperlukan untuk memastikan anggaran negara benar-benar dikonversi menjadi pemenuhan gizi bagi anak-anak.
“Setiap pelanggaran, termasuk korupsi dan penyalahgunaan anggaran, harus ditindak tegas tanpa memandang jabatan maupun posisi. Pengawasan yang kuat akan memperkokoh kepercayaan publik terhadap program ini,” katanya.
Hariqo menilai Indonesia telah memiliki fondasi yang baik dalam menjalankan MBG. Para pekerja di SPPG memiliki peran penting karena tidak hanya menjalankan tugas untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga turut berkontribusi dalam menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan mampu berkonsentrasi dalam belajar.
Selain memenuhi kebutuhan gizi, MBG berpotensi memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pekebun, dan nelayan dalam rantai pasok pangan. Perputaran ekonomi tersebut dapat menciptakan manfaat berantai bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Berbagai model pelaksanaan, seperti dapur umum, dapur sekolah, maupun pelibatan kantin sekolah, dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah, khususnya daerah 3T, dengan tetap memperhatikan standar gizi dan ketersediaan tenaga kerja.
“Kritik dan masukan masyarakat merupakan energi penting untuk menyempurnakan MBG. Keberhasilan program ini adalah tanggung jawab bersama untuk mewujudkan anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, berakhlak baik, dan mampu bersaing,” ujar Hariqo.


