Hadapi Dampak Global, Magang Nasional Redam Ketegangan Generasi Muda

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia di tengah tekanan ekonomi global dengan mengoptimalkan Program Magang Nasional. Langkah ini dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan kompetensi tenaga kerja, tetapi juga berperan dalam meredam potensi ketegangan sosial di kalangan generasi muda.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan bahwa pemerintah berencana menambah kuota peserta Program Magang Nasional untuk periode 2026–2027. Kebijakan ini diambil seiring tingginya minat pendaftar serta kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di pasar global.

“Kita melihat antusiasme yang sangat tinggi dari para pendaftar, sekaligus kebutuhan industri akan tenaga kerja yang siap pakai. Karena itu, penambahan kuota menjadi langkah strategis ke depan,” ujar Yassierli.

Selain itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tengah mengevaluasi skema pembiayaan program, termasuk kemungkinan keterlibatan perusahaan dalam memberikan kontribusi terhadap uang saku peserta magang. Menurut Yassierli, partisipasi sektor industri menjadi penting untuk memperkuat ekosistem pelatihan kerja.

“Kita sedang mengkaji untuk melibatkan perusahaan lebih aktif, sehingga sudah mulai ada usulan nanti uang sakunya itu harus ada share kontribusi dari perusahaan, walaupun tentu tidak dominan,” kata Yassierli.

Ia menambahkan, keterlibatan perusahaan tidak hanya terkait pembiayaan, tetapi juga dalam peningkatan kualitas pelatihan. Hal ini mencakup pemberian sertifikat kompetensi bagi peserta sebagai bekal memasuki dunia kerja secara profesional.

Cakupan bidang keahlian juga akan diperluas. Program magang tidak lagi berfokus pada bidang administrasi, manajemen, atau pemasaran semata, tetapi juga mencakup berbagai sektor strategis lainnya guna mengakomodasi lulusan diploma dan sarjana dari beragam disiplin ilmu.

Pengamat ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjudin Nur Effendi, menilai bahwa program ini memiliki nilai strategis sebagai instrumen investasi sosial. Ia menegaskan bahwa keberadaan program magang dapat mencegah meningkatnya angka pengangguran terdidik.

“Dari sudut pandang investasi sosial, tidak ada sarjana yang terbuang. Mereka dididik, lulus, nggak nganggur karena magang, kemudian diterima (jadi pegawai), itu berarti investasi sosial di bidang sumber daya manusia,” ujar Effendi.

Menurutnya, investasi sosial tersebut berkontribusi dalam meredam ketegangan sosial di kalangan generasi muda, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang berpotensi meningkatkan kompetisi kerja.

Effendi juga meyakini bahwa Program Magang Nasional menjadi angin segar bagi para lulusan baru atau fresh graduate dalam mencari peluang kerja, sekaligus menjadi jembatan transisi dari dunia pendidikan ke dunia industri. (*)

  • Related Posts

    Presiden Prabowo Dorong Kerja Sama RI-India Lebih Konkret dan Berdampak

    Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kemitraan strategis dengan India melalui kerja sama yang lebih konkret, implementatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Komitmen…

    Indonesia dan India Sepakati Sejumlah Kerja Sama Strategis, Kemitraan Komprehensif Makin Kuat

    Jakarta — Pemerintah Indonesia dan India memperkuat hubungan bilateral melalui kesepakatan 15 kerja sama strategis di berbagai bidang sebagai bagian dari penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif kedua negara. Kesepakatan tersebut dicapai…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *